Medan- M. Natsir seorang pemikir Islam yang rasional, memiliki rasa Nasionalisme yang tinggi, namun tetap pada prinsip jika peran agama tidak dapat dipisahkan dalam pemerintahan.
"Dan janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak, hanya berbunyi ketika terhempas di pantai. Tetapi jadilah kamu air bah, mengubah dunia dengan amalan mu", kata Muhammad Natsir
M. Natsir adalah seorang Perdana Mentri pertama Indonesia. Sebelumnya dia menjabat sebagi menteri Penerangan, kecerdasan dan kebersahajaannya membuat Soekarno sangat mengaguminya. Meski begitu, ia sempat berseteru hebat dengan Soekarno karena masalah prinsip dalam bernegara mereka berbeda.
M. Natsir lahir pada di Alahan panjang, Solok, Sumatera Barat, tanggal 17 Juli 1908. Natsir berasal dari keluarga terpandang di Minangkabau, memiliki ayah seorang juru tulis membuat Natsir sering berpindah-pindah. Natsir menempuh pendidikan HIS dan MULO di Sumatera Barat, serta melanjutkan AMS di Bandung.
Ketika sekolah di Bandung inilah pemikiran agama dan Nasionalismenya berkembang, ia banyak mengenal tokoh-tokoh Islam seperti Agus Salim, Achmad Hasan, dan lainnya.
Di Bandung, jalan Hidup Natsir berbelok. Perjumpaannya dengan A. Hassan dan keaktifannya di organisasi Islam membuat Natsir menolah beasiswa ke Belanda, padahal ijazah AMS nya pada tahun 1930 memuaskan yang membuat ia berhak menerima sekitar Rp 130 sebulan. Natsir lebih memilih mendirikan sekolah modern Islam pertama di Indonesia.
Sebagai seorang negarawan sejati, karya monumental dari Natsir adalah Mosi Integral. Pada pertengahan tahun 1949 Indonesia berada di ujung tanduk, tidak hanya menghadapi gempuran Belanda, Indonesia juga mengalami serang dari Diplomasi Belanda. Dalam upaya ingin tetap menguasai Indonesia, Belanda melalui bekas Gubernur Jendral Belanda nya Van Mook mencoba memecah Indonesia menjadi beberapa negara bagian dalam upayanya menjadikan Indonesia sebagai negara boneka Belanda. Natsir bergerak cepat, sebagai ketua fraksi dari partai Masyumi ia segera bertukar pikiran dengan para pemimpin fraksi lainnya dan segera melakukan loby dengan negara-negara bagian, hasilnya pada tahun 1950 Indonesia kembali menjadi Negara kesatuan dengan Natsir sebagai motor penggeraknya.
Ketika menjadi pejabat negara, Natsir tidak terlepas dari kesahajaannya. Tetap sederhana dan memberi hal yang contoh bukan sekedar perkataan tapi melalui perbuatan, ia hanya memiliki dua kemeja lusuk dan rumah sempit sebagi seorang pejabat negara.
Natsir merupakan seorang Perdana Mentri kesayangan Soekarno, meski begitu perbedaan pendapat yang membuat hubungan antara mereka retak tetap tidak dapat dihindari, Soekarno agar diterapkannya Nasakom(Nasionalis, Agamis, Komunis), tapi Natsir menolak karena menurutnya prinsip Komunis bertolak belakang dengan Islam. Puncaknya adalah ketika Natsir menyerahkan manda Perdana Menteri kepada soekarno, penyerahan itu membuat Natsir menjadi pemimpin yang dibenci bung karno.
Setelah tidak lagi menjadi Perdana Menteri, Natsir aktif di partai Masyumi dan parlemen. Ia aktif mengkritik pemimpin pada saat itu yang mulai otoriter dan mengabaikan demokrasi. Natsir tidak ingin bermulut manis di depang penguasa, ia mengkritik Soekarno yang terlalu dengan dengan Komunis dan menuntuk kesejahteraan daerah di luar Jawa.
Keterlibatan Natsir dalam PRRI(Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera berbuntut panjang, pemerintah tandingan yang awalnya dibentuk untuk memprotes kediktatoran Soekarno serta menuntut kembalinya konstitusi kepada UUDS(Undang-Undang Dasar Sementara). Pemerintah pusat di Jakarta lebih memilih jalan kekerasan menghadapi PRRI, alhasil perang saudara tidak dapat dihindari, PRRI kalah dan Natsir pun dipenjara, partai Masyumi juga dibekukan.
Ketika Orde lama tumbang dan memasuki Orde baru, Natsir dibebaskan. Pada tahun 1967, Ia mencoba kembali mendirikan Masyumi, namun pada saat itu Soeharto melarangnya karena takut akan terulang seperti pada saat Soekarno dan mengatakan jika Natsir pernah terlibat makar, Masyumi batal kembali di dirikan serta Natsir dilarang untuk berpolitik.
Setelah tidak lagi di panggung politik, M. Natsir aktif di panggung dakwan tanah air. Keinginannya membangun umat Islam melalui dakwah tidak pernah berhenti, pada 26 februari 1967 ia mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia(DDII). Lembaga ini digunakan Natsir sebagi upaya mengkader para dai yang dipersiapkan di masjid seputar Jakarta dan Indonesia.
M. Natsir meninggal pada 6 Februari 1993. Di masa hidupnya sebagai seorang ulama dan negarawan sejati, Islam dan Nasionalisme menjadi perpaduan. Menurutnya Indonesia tidak dapat dipisahkan dari Islam, buah pikirnya membuat Islam lebih moderat. Menjadi seorang ulama bukan berarti tidak bisa berpolitik, Natsir membuktikannya walau sudah menjadi pejabat negara tapi tetap sederhana dan bersahaja, karena tujuannya mengabdi kepada agama dan negaranya.
Ditulis oleh: Rendi Budi Syahputra Siregar







0 Comments:
Posting Komentar